1.6 GAJAH SUMATERA
Gajah Sumatra (Elephas maximus
sumatranus) adalah yang paling kecil dari ketiga subspesies dari Gajah
Asia, dan merupakan endemic untuk Pulau Sumatra. Sebelum terjadi
perusakan besar-besaran pada habitatnya, gajah secara luas tersebar di
seluruh Sumatra pada ekosistem yang beragam, Gajah Sumatra ditemukan
sampai hutan primer pada ketinggian di atas 1,750 m di Gunung Kerinci
Barat Sumatra (Freywyssling, 1933 dalam Satiapillai. 2007).
Habitat yang paling disukai adalah hutan dataran rendah, dari
berbagai ekosistem di daerah jelajahnya. Di masa lalu, ketika
habitatnya belum rusak, gajah mengadakan migrasi luas. Pergerakan ini
pada umumnya mengikuti aliran sungai. Gajah berpindah dari daerah gunung
ke dataran rendah pantai selama musim kering dan naik ke bukit satu
kali ketika hujan datang (Van Heurn, 1929; Pieters, 1938 dalam
Satiapillai. 2007).
Gajah sumatera mempunyai ciri
badan lebih gemuk dan lebar. Pada ujung belalai memiliki satu bibir.
Berbeda dengan Gajah Afrika, Gajah Sumatera memiliki 5 kuku pada kaki
depan dan 4 kuku di kaki belakang. Berat gajah sumatera dewasa mencapai
3.500-5000 kilogram, lebih kecil dari Gajah Afrika.
Gajah Sumatera dewasa dalam sehari
membutuhkan makanan hingga 150 kilogram dan 180 liter air. Dari jumlah
itu, hanya sekitar 40% saja yang mampu diserap oleh pencernaannya. Untuk
memenuhi nafsu makan ini Gajah Sumatera melakukan perjalanan hingga 20
km perharinya. Dengan kondisi hutan yang semakin berkurang akibat
pembalakan liar dan kebakaran hutan, tidak heran jika nafsu makan dan
daya jelajah bintang berbelalai ini sering terjadi konflik dengan
manusia.
Sebagaimana spesies gajah asia
lainnya, Gajah Sumatera tidur sambil berdiri. Selama tidur, telinganya
selalu dikipas-kipaskan. Ia mampu mendeteksi keberadaan sumber air dalam
radius 5 kilometer. Gajah Sumatera, mengalami masa kawin pada usia
10-12 tahun. Dan akan melahirkan anak 4 tahun sekali dengan masa
mengandung hingga 22 bulan.
1.6 LUTUNG JAWA
Lutung jawa atau dalam bahasa latin disebut dengan Trachypithecus auratus
merupakan salah satu jenis lutung asli (endemik) Indonesia. Sebagaimana
spesies lutung lainnya, lutung jawa yang bisa disebut juga lutung budeng
mempunyai ukuran tubuh yang kecil, sekitar 55 cm, dengan ekor yang
panjangnya mencapai 80 cm.
Lutung jawa atau lutung budeng terdiri atas dua subspesies yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius. Subspesies Trachypithecus auratus auratus (Spangled
Langur Ebony) bisa didapati di Jawa Timur, Bali, Lombok, Palau Sempu
dan Nusa Barung. Sedangkan subspesies yang kedua, Trachypithecus auratus mauritius (Jawa Barat Ebony Langur) dijumpai terbatas di Jawa Barat dan Banten.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar